Beranda > Perikanan Kelautan > Petani Rumput Laut Luwu Timur Bergairah Lagi

Petani Rumput Laut Luwu Timur Bergairah Lagi

Pada minggu kedua April ini harga mulai naik sampai Rp. 6.500 per kg. Turunnya harga tersebut di akibatkan karena kualitas panen yang menurun pula

Musdar dan Risal, pendamping Community Development PT. Inco untuk pengembangan rumput laut tengah memeriksa rumput laut hasil budidaya kelompok dampingan program community development PT. Inco.

(Malili, 12/4/2011). Setelah beberapa minggu terakhir petani rumput laut di daerah ini resah akibat anjloknya harga rumput laut di tingkat pedagang pengumpul, pertengahan bulan April ini secara perlahan harga rumput laut di daerah itu kembali stabil.

Hal ini membuat petani rumput laut jenis Gracillaria yang di budidayakan di empang mulai bersemangat kembali.  Anjloknya harga rumput laut yang pada medio bulan Februari mencapai Rp. 8.500 perkilogram kering dan ini harga tertinggi selama ini, anjlok sampai titik terendah Rp. 5.500 per kg.

Pada minggu kedua April ini harga mulai naik sampai Rp. 6.500 per kg. Turunnya harga tersebut di akibatkan karena kualitas panen yang menurun pula.

Musdar, salah seorang tenaga teknis lapangan yang diperkerjakan pada Program Community Development PT Inco sebagai pendamping kelompok tani tambak di sekitar Kecamatan Malili, menuturkan  penurunan harga tersebut semata mata di akibatkan karena petani tambak kurang sabar.

“Pada saat harga lagi tinggi, petani tidak lagi memperhatikan kualitas produksi, yang di buru bagaimana menjual sebanyak banyaknya tanpa memperhitungkan lagi umur panen akibatnya pihak pabrik pengolahan banyak menolak hasil panen petani,” ungkapnya menuturkan.

Lain lagi dengan masalah yang di hadapi petani tambak, Rizal Bandaso, selaku ketua kelompok Mario Marennu mengeluhkan kurangnya tenaga panen.  Budidaya rumput laut di empang membutuhkan banyak tenaga panen yang khusus membantu memanen.

“Selama ini pemilik tambak memberikan upah kepada tenaga panen sebesar Rp. 1.000 per kilogram dan mereka bisa memanen rata rata 200 kg per hari, jadi pendapatan mereka bisa mencapai Rp200 ribu per hari setiap orang,” ujar Rizal.

Karena kurangnya minat pemuda di sekitar daerah ini menjadi tenaga panen memaksa mereka mencari tenaga dari luar daerah ini.

“Sebagian besar pemuda daerah ini memilih kerja di sector pertambangan, walaupun jelas pendapatan mereka lebih rendah di bandingkan sebagai tenaga pemanen rumput laut,” urai lulusan Sarjana Teknik yang memilih terjun sebagai petani tambak ini.

Rizal juga menceritakan bagaimana awalnya kelompok mereka mengenal rumput laut yang di budidayakan di empang tersebut. Menurut dia, pada tahun 2006 – 2007, Program Community Development PT Inco membuat empang percontohan system polikultur dimana rumput laut di kembangkan bersama  bandeng dan udang seluas dua hektar di empang miliknya lengkap dengan bantuan sarana produksi dan tenaga pendamping.

Program ini berhasil tetapi tidak mampu menggugah masyarakat sekitar untuk ikut memelihara rumput laut karena harga rumput laut pada saat itu sangat rendah hanya berkisar Rp. 1.800 sampai Rp. 2.000 per kilonya.

Rendahnya harga saat itu karena petani hanya bisa menjual hasil panen kepada broker local yang bisa sampai 5 tingkatan baru sampai di pabrik olahan.  Untuk mengatasi masalah tersebut PT Inco bersama Pemda Lutim dan Assosiasi Petani Rumput Laut (ASPPERLI) Luwu Timur mencoba menggaet pabrik olahan untuk langsung membeli hasil panen petani.

Upaya tersebut berhasil menggaet PT Agarindo Bogatama (Pabrik agar agar Swallow di Tangerang) langsung membeli melalui perwakilan mereka yaitu Kospermindo.  Masuknya KOSPERMINDO di daerah ini langsung mendongkrak harga mencapai Rp 6.000 per kilo.

“Saat itu mulailah petani tambak yang lain mencoba memelihara rumput laut sampai sekarang jumlah petani yang menjadi anggota kelompok ini mencapai 80 orang dengan luasan budidaya berkisar 75 hektar, sayangnya petani kita sebagian besar tidak telaten mempertahankan kualitas hasil panen sehingga mitra Agarindo semakin berkurang pula walaupun produksi sekarang banyak dan sebagian besar di beli oleh pedagang local dengan harga yang lebih rendah,” keluh Rizal.

Ketua kelompok tani ini juga mengharapkan keseriusan pemerintah daerah menjadikan rumput laut sebagai komoditas unggulan daerah ini dengan cara menambah tenaga penyuluh lapangan atau tenaga pendamping dan kembali menjalin kemitraan dengan banyak pengusaha khususnya langsung dengan pabrik olahan supaya terjadi harga yang kompetitif. (Sumber ; Luwuraya.com)

  1. Hajir
    Mei 28, 2011 pukul 12:39 pm

    Mantap, Maju terussss, tetap berkarya untuk Lutim.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: